Kapan pertama kali kamu jatuh cinta? Kalau saya sih, waktu TK, sama guru TK saya yang saya sudah lupa namanya. Tapi saya bukan mau cerita itu. Saya mau cerita bahwa saya pernah jatuh cinta tanpa saya sadari. Jatuh cinta pada majalah yang namanya TEMPO. Memang sungguh-sungguh enak dibaca walaupun saya tak tahu perlunya untuk apa. Dan saya baru sadar itu namanya jatuh cinta, belasan tahun kemudian. Ya sekarang ini.

Kamu bayangkan seorang anak laki-laki SD yang badannya ringkih, ditiup angin pun melambai. Anak itu dilarang keluar rumah kecuali untuk sekolah (dan untungnya juga untuk ulang tahun teman-temannya). Teman bermainnya di rumah hanya seorang anak perempuan, ya itu adiknya, yang yaaah, dia sudah lupa hobinya apa. Mungkin saking tidak menariknya hobi adiknya itu.

Suatu hari di tengah kebosanannya dia memutuskan untuk melihat-lihat isi lemari bapaknya. Ada buku-buku tebal dan besar yang lebih besar dari semua buku pelajaran yang pernah dilihatnya. Sampulnya keras, ada foto dan tulisannya. Ada juga yang kelihatan seperti buku-buku yang dijahit dengan bahan kain celana panjang bapaknya dan benang kasur. “Itu namanya bundel majalah”, kata bapaknya, yang tampaknya memang senang mengumpulkan buku-buku itu. “Tapi itu bacaan orang besar,” tambah bapaknya. Orang besar itu maksudnya orang dewasa. Read the rest of this entry »

kusangka waktu berhenti
guguran daun diam mengambang
enggan memijak bumi
tiap helainya terbuai dekapan angin sore

kusangka waktu berhenti
sepotong cheese cake tersangkut
lembut, gurihnya membalut lidah
tak habis-habisnya melumeri hati

kusangka waktu berhenti
sembilu duka yang mengiris hati
tak tega mengoyak lebih lebar
perih di dada sembuh sebentar

O Sang Kala
apa gerangan
tumbal yang kau minta
untuk semua kemewahan ini

ke mana perginya arusmu
yang tanpa ampun
selalu menggerus! selalu menghapus!
menyisakan tanya dan sangka

“Wahai Sang Pengelana
arus ku tak kenal henti
mengantar semua yang berawal
menemui akhir di lautan kekekalan

kembalilah, susuri takdirmu
jumpai perpisahan, tinggalkan perjumpaan
pungutlah bekal untuk pelayaran panjang
dari jernihnya makna yang kau reguk

karena bukan waktu yang berhenti
tapi jam dindingmu yang mati”

Nelofer Pazira (tengah) bersama iQbal Alfajri dalam diskusi The Beauty of Afghanistan yang dipandu Atta Verin (kiri)

Film bukan hanya untuk menghibur, namun juga untuk menyampaikan pesan. “Kalau gambar yang diam saja bisa berbicara seribu kata, apalagi film yang bergerak,” ujar iQbal Alfajri, sineas Salman Films, dalam Diskusi “The Beauty of Afghanistan”, Ahad (15/08) pukul 10:00 – 12:00 WIB.

iQbal bertindak selaku pembahas dalam diskusi yang berlangsung di area paving block Masjid Salman ITB tersebut. Diskusi ini menghadirkan pembicara utama Nelofer Pazira, dengan moderator Atta Verin, seorang penulis dan pemerhati sastra. Nelofer adalah seorang perempuan Afghan yang menjadi penulis, sutradara sekaligus pemain film Kandahar (2001) dan Return to Kandahar (2003). Ia yang kini menjadi warga negara Kanada, hadir di Salman atas kerjasama Divisi Pengkajian & Penerbitan YPM Salman ITB, Canada Embassy, dan Penerbit Mizan.

iQbal, yang filmnya pernah menembus festival film Cannes di Prancis pada 2005, mengaku terinspirasi dengan film Kandahar karya Nelofer. Menurutnya, film itu “manis sekaligus tragis”. iQbal tidak bisa melupakan gambaran orang-orang Afghan yang buntung kakinya karena ranjau, berlari di padang pasir mengejar kaki-kaki palsu yang dijatuhkan dari helikopter.  Ia melihat, semangat orang-orang itu untuk tetap melanjutkan hidup tergambarkan dengan kuat. Film tersebut, aku iQbal, adalah salah satu pendorong ia dan rekan-rekannya mendirikan Salman Films, dalam rangka menghasilkan film-film yang membawa pesan islami. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.