You are currently browsing the monthly archive for November, 2007.
Saya mau melanjutkan pemikiran saya soal bahasa daerah. Mengapa sebuah bahasa bisa menjadi bahasa daerah? Maksud saya, mengapa ia tidak berkembang menjadi bahasa nasional atau bahasa internasional? Saya menanyakan ini, karena diskusi soal pelestarian bahasa daerah pasti berkembang karena bahasa daerah terancam punah. Sebuah bahasa terancam punah kalau penggunanya semakin sedikit. Kalau bahasa itu penggunanya semakin bertambah, berarti bahasa itu tidak akan punah dan tidak perlu diusahakan pelestariannya.
Secara alamiah, kalau penggunaan bahasa tidak meluas wilayah geografisnya, bisa saja sih penggunanya terus bertambah. Prosesnya lewat angka kelahiran penduduk yang lebih besar dari angka kematian. Tapi itu kalau dalam satu wilayah geografis hanya ada satu bahasa. Kalau dalam wilayah itu ada dua bahasa atau lebih, saya percaya akan ada persaingan penggunaan bahasa di wilayah tersebut. Kepercayaan ini lahir karena memang saya melihat hal itulah yang terjadi. Kalau Anda belum percaya, amati saja sekeliling Anda. Bahasa-bahasa memperebutkan pengguna. Hmm, kalimat ini mungkin terlalu bombastis. Tapi saya tidak tahu kalimat apalagi yang cocok untuk menggambarkan keadaan yang saya–dan mungkin juga Anda–lihat.
Suatu kali saya membaca sebuah artikel menarik di situs www.panyingkul.com. Situs ini diisi perantau-perantau dan warga asli Sulawesi Selatan. Isi artikel yang saya baca itu, menggugat kekurangpedulian banyak pihak terhadap pelestarian bahasa daerah. Memang sih, ada beberapa pemda yang peduli dengan pelestarian bahasa daerahnya. Di Jogjakarta misalnya, ada kebijakan untuk menuliskan nama jalan dengan dua bahasa: Indonesia dan Jawa. Hal yang sama terjadi di Makassar. Di bawah tulisan nama jalan dalam bahasa Indonesia, biasanya selalu ada tulisan berbunyi sama dalam bahasa daerah. Satu lagi kebijakan yang dirasa penting oleh sang penulis: pengajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah dasar dan menengah.
Saya lantas teringat artikel lain. Di Majalah Tempo bertahun-tahun yang lampau, pernah dimuat sebuah artikel feature tentang pengajaran muatan lokal. Di dalam artikel tersebut, dipaparkan bahwa muatan lokal yang paling banyak diajarkan adalah bahasa daerah. Tapi, pengajaran bahasa daerah seringkali membawa kesulitan. Ada seorang anak, sebut saja namanya Randy. Randy ini tinggal dan bersekolah di sebuah sekolah dasar di Depok. Karena Depok terletak di Propinsi Jawa Barat, maka di SD-nya Randy belajar bahasa Sunda. Namun, Randy di rumah bercakap-cakap dalam bahasa Minang, karena kedua orangtuanya memang asli sana. Di luar pelajaran bahasa Sunda, Randy bercakap-cakap bahasa Indonesia. Ya iya dong. Teman-temannya kan datang dari beragam etnis. Nah, karena Randy “hanya” bertemu dengan bahasa Sunda selama jam pelajaran, dia jadi kesulitan mempelajari bahasa Sunda.
