You are currently browsing the monthly archive for March 2008.
Ada potongan menarik yang saya pungut dalam diskusi Sabtu kemarin: “Sastra dalam Budaya Massa”. Diskusi ini diawali polemik dalam Harian Pikiran Rakyat, antara Teh Ani dan Topik Mulyana. Teh Ani mula-mula menulis kegundahannya mengenai sastra Islam. Kata Teh Ani, label sastra Islam saat ini hanya disematkan pada karya-karya FLP saja. Padahal sastra Islam itu luas dan panjang sejarahnya. Topik Mulyana, seorang editor Syaamil dan anggota FLP, tampaknya merasa FLP disudutkan dan membalas komentar Teh Ani di PR. Read the rest of this entry »
Menunggu, menjemukan, mendebarkan. Semua orang mungkin menunggu. Mungkin. Harap-harap cemas. Mungkin dapat, mungkin tidak. Mungkin boleh, mungkin tidak. Mengapa harus ada harapan? Hidup memang serasa hidup karenanya, tapi juga terbebani olehnya. Bila saja semua keinginan dan harapan musnah, mungkin kehidupan tidak lagi ada di bumiā¦
Tapi toh tak mungkin juga kita hidup seperti sapi dan kerbau. Mereka hanya butuh rumput, tidak butuh nilai, gelar atau sepotong cinta.

