180709pSaya kecewa, mungkin juga Anda. Soalnya Gerhana Matahari Cincin kemarin jadi kurang asyik karena dibayang-bayangi mendung.

Saya melihat gerhana kemarin sore betul-betul sekilas. Cuman 1 menit, eh 30 detik atau malah kurang. Sekitar pukul 16:30 WIB, gumpalan awan di sebelah Barat sedikit tersibak. Dari tangga sebelah selatan Masjid Salman, saya bisa menyaksikan piringan Bulan hampir menutupi Matahari. Yang tersisa hanya bagian Matahari berbentuk lengkungan yang tengkurap. Kata Dr. T. Djamaluddin yang menjadi khatib shalat gerhana sore itu, puncak gerhana sekitar pukul 16:41 WIB. Waduh, coba awan itu tersibaknya mundur 10 menit aja….

Sore kemarin juga saya merasakan untuk pertama kali, shalat gerhana itu seperti apa. Bacaannya paaaaaaanjang dan laaaaaaaaaama persis kayak choki-choki. Baru ruku pertama aja (dalam shalat gerhana ada dua rakaat, masing-masing 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud), banyak jamaah yang mulai sakit tenggorokan (baca: terbatuk-batuk dan berdehem-dehem). Begitu juga di ruku’ dan rakaat berikutnya. Padahal seingat saya, kalau tidak salah baca, di Wikipedia dan blognya Mas Poer ada disebut bahwa bacaan ruku’ (atau rakaat) kedua dalam shalat gerhana, seharusnya lebih pendek.

Halah…halah…. kok malah sumbernya dari Wikipedia dan blog? Bukannya dari Al-Qur’an dan Hadits. Atau mungkin, Al-Qur’an dan Hadits perlu tampil dalam bentuk blog? Kalau bentuknya Wikipedia boleh nggak ya? Menarik (mungkin agak sedikit mengerikan) juga melihat versi Wikipedia Qur’an yang rentan dikoreksi.

Mudah-mudahan bulan Juli nanti kita masih diberi kesempatan menyaksikan Gerhana Matahari Total. Dan mungkin, saya nggak akan shalat Kusuf di Salman saat itu. He..he…