Mas Poer

Mas Poer

Kepemimpinan adalah topik yang selalu menarik untuk diangkat. Termasuk dalam Pengajian Siaware kali ini, Ahad 21 Juni 2009 yang berlangsung di rumah Sano (Siaware 6). Pengajian ini dihadiri Rioz dan Eja (Siaware 7), Ilham (Siaware 8), Indri (Siaware 6), Salim (Siaware 11) dan Echi (Siaware 14). Sebagai narasumber, diundanglah Ustadz Abu Yahya Poerwanto, atau lebih akrab disapa Mas Poer.

Berbeda dengan beberapa pengajian sebelumnya, kali ini Mas Poer tidak memulai langsung dengan pembahasan, akan tetapi dengan mempersilakan teman-teman Siaware yang hadir berbagi pandangan mengenai kepemimpinan. Dimulai dari Salim, yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan menentukan tujuan, menjalankan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan itu, dan selanjutnya menginspirasi/memotivasi orang lain untuk mengikuti tujuan tersebut. Bagi Ilham, kepemimpinan adalah mengajak orang lain untuk menuju suatu tujuan. Atau dalam bahasa Eja dan Indri, menggerakkan hati orang lain. Lain lagi dengan Echi, yang lebih menekankan contoh/teladan sebagai unsur kepemimpinan, di samping visi, dan tidak kalah pentingnya sensitivitas terhadap lingkungan. Adapun Rioz, melihat kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan.

Menanggapi pandangan-pandangan tersebut, Mas Poer percaya bahwa teman-teman Siaware yang hadir telah punya pengalaman dalam memimpin. Beliau selanjutnya ingin berbagi perspektif Islam tentang kepemimpinan, untuk ikut mewarnai pandangan-pandangan tersebut.

“Kepemimpinan itu adalah perkara yang sangat besar (dalam istilah Al-Qur’an: amrun adzhim),” tegas Mas Poer. Jika pemimpinnya amanah, maka pahalanya sangat besar. Akan tetapi jika ia khianat, maka dosanya pun sangat besar. Karena besarnya urusan kepemimpinan ini, maka sudah seharusnyalah ia dipandu oleh ajaran agama. Dalam pengajian kali ini, ayat utama yang dikupas dalam memandu kepemimpinan adalah Surah As-Sajdah ayat 22-24:

Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.“{22}

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima (Al Qur’an itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israel.” {23}

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” {24}

Jika kita menyimak ayat-ayat tersebut di atas, sifat-sifat pemimpin yang disebut-sebut oleh Al-Qur’an adalah “memberi petunjuk dengan perintah Kami”, “sabar”, dan “meyakini ayat-ayat kami”.

Sifat pertama menurut Mas Poer adalah identitas yang membedakan pemimpin yang islami dengan pemimpin lain. Pemimpin yang islami adalah pemimpin yang memimpin dengan syariat, ajaran Islam, jalan Allah; siapapun yang dipimpin, kapan dan di mana pun ia memimpin.

Karena itu, menurut Mas Poer, meskipun Islam mengakui adanya kepemimpinan politis dan kepemimpinan agama/keilmuan, namun idealnya kedua jenis kepemimpinan tersebut dapat berdampingan, atau bahkan berada di tangan satu orang. Contoh klasiknya adalah di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Ali dan Utsman r.a.).  Contoh kontemporernya adalah kepemimpinan Malik Ibn Saud (pendiri Kerajaan Arab Saudi) yang didampingi seorang ulama bernama Muhammad bin Abdul Wahab. “Sebaiknya pemimpin politik/negara itu didampingi seorang pemimpin (imam) yang paham betul tentang agama (Islam),” ujar Beliau.

Sifat kedua seorang pemimpin islami, yaitu sabar, bermakna cukup luas. Mulai dari sabar menuntut ilmu, sabar melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, sampai sabar menahan hawa nafsu dan syahwatnya. Sabar di sini berguna agar pemimpin tersebut dapat menahan diri dari keinginan-keinginan yang berpotensi menyimpangkannya dari jalan Allah dan menjerumuskannya ke dalam azab-Nya.

Sifat ketiga, dan yang terpenting, adalah yaqin (yakin). Yaqin menurut Mas Poer bukan sekadar tahu. Akan tetapi, yaqin bermakna ilmu yang mendorong  seseorang beramal, melaksanakan apa yang ia ketahui. Yaqin bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, akan tetapi dicapai dengan perjuangan. Rasulullah SAW sendiri dalam ayat kedua di atas (Q.S. As-Sajdah:23) dituntut Allah agar “jangan ragu-ragu menerima Al-Qur’an”. Jika Rasulullah sendiri perlu berjuang untuk mencapai keyakinan, maka lebih-lebih lagi kita, umatnya yang tidak menyaksikan sendiri turunnya wahyu.

Yaqin sebagai sifat seorang pemimpin, berguna untuk menolak syubhat. Syubhat adalah hal-hal yang benar (faktual, nyata) akan tetapi malah menjauhkan kita dari kebenaran itu sendiri. Mas Poer mencontohkan ungkapan yang menyebutkan bahwa semua agama mengandung kebenaran. Ungkapan tersebut memang tidak keliru, sebab setiap agama sebagai warisan para nabi di zamannya memang mengandung nilai-nilai kebenaran. Namun tanpa yaqin terhadap ajaran Islam secara keseluruhan, ungkapan ini bisa membuat orang ragu-ragu bahkan lari dari Islam.

Mas Poer juga membahas sekelumit aspek kepemimpinan kontemporer, yaitu perbedaan antara pemimpin dan manajer. Pemimpin menetapkan tujuan, manajer merancang cara dan mengatur sumber daya agar tujuan tersebut tercapai. Pemimpin melakukan hal yang benar (doing the right thing), manajer melakukan segala sesuatunya dengan benar (doing things right). Memang idealnya seorang pemimpin juga sekaligus memiliki kapasitas manajerial. Namun jika ini tidak terjadi, pemimpin harus percaya kepada manajer yang ia tunjuk dalam mengatur anak buah dan sumber dayanya. Sebaliknya, manajer harus tetap mematuhi pemimpinnya.

Dalam sesi tanya jawab, Indri mengajukan pertanyaan klasik, apakah kepemimpinan itu bersifat natural atau dapat dipelajari. Mas Poer menjawab, kedua-duanya benar. Ada pemimpin yang memang berbakat memimpin sejak lahir. Ada juga yang perlu belajar dan berlatih dahulu sebelum mampu memimpin dengan baik. Akan tetapi, tanpa belajar bisa saja bakat kepemimpinan yang dimiliki seseorang malah tenggelam. Lebih jauh mengenai bakat kepemimpinan, Mas Poer menambahkan bahwa orang yang berbakat memimpin biasanya lebih menonjol kemampuan otak kanannya. Dia lebih mengandalkan naluri/intuisi dibandingkan analisis yang menjadi pekerjaan otak kiri.

Eja kurang setuju dengan pandangan Mas Poer. Menurutnya, kemampuan analisis juga sangat penting bagi seorang pemimpin. Dalam kepemimpinan jangka pendek seperti kepanitiaan, mungkin memang dibutuhkan tindakan yang cepat, mengandalkan intuisi/naluri. Akan tetapi dalam jangka panjang, seorang pemimpin negara misalnya, perlu membuat rencana yang tidak akan dapat disusun tanpa kemampuan menganalisis situasi yang dihadapi.

Menanggapi ketidaksetujuan Eja, Mas Poer menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan memang sangat bergantung bukan hanya pada panjang-pendeknya waktu, melainkan juga  terhadap situasi yang dihadapi. Mengambil contoh dari sebuah buku tentang krisis yang dihadapi Intel (sebuah perusahaan chip komputer multinasional), Mas Poer membagi dua jenis situasi kepemimpinan.

Ada situasi yang membutuhkan kepemimpinan bertipe “paranoid”, dimana sang pemimpin mengurusi segala hal sampai sekecil-kecilnya, mengarahkan manajer sampai karyawan lapisan terbawah dengan detil. Situasi ini adalah situasi krisis, dimana setiap tindakan dapat membawa pada keselamatan, atau sebaliknya: pada kehancuran. Akan tetapi, dalam situasi yang damai, tenang-tenang saja, pemimpin sebaiknya hanya memberi arahan-arahan umum dan memberi kesempatan kepada manajer dan bawahannya yang lain untuk berkreasi sendiri.

Tentunya dalam kedua situasi tersebut, porsi kerja otak kanan dan kiri juga berbeda. Yang pertama mungkin membutuhkan kapasitas otak kiri yang lebih besar karena segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan cermat. Sedangkan situasi kedua lebih menonjolkan kemampuan otak kanan, seperti merasa dan membangun hubungan emosional jangka panjang.

Sedikit lebih jauh menggali makna yaqin, Echi bertanya, “Apa bedanya yaqin dengan iman?” Bukankah definisi iman adalah mengakui dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melakukan dengan perbuatan? Bukankah ini berarti iman dan yaqin sama-sama bermuara pada perbuatan?

Mas Poer menjawab bahwa yaqin adalah salah satu aspek saja dari iman. Aspek lain yang jauh lebih penting adalah apa yang diakui, diucapkan dan dilakukan oleh orang yang disebut beriman dalam Al-Qur’an. Hal ini terkait dengan firman Allah SWT berikut:

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk (berislam)”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” {Q.S. Al-Hujurat (49):14}.

Orang yang beriman dalam ayat tersebut adalah orang yang terlebih dahulu tunduk (Islam, berserah diri) pada ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Orang beriman mengakui, mengucapkan dan melakukan apa yang ia pahami dari Al-Qur’an dan Sunnah. Singkatnya, orang (dan juga pemimpin) yang beriman, yaqin pada ajaran Islam.

Menurut Mas Poer, pemimpin yang tidak beriman (kufur) dapat saja memiliki sifat yaqin dan sabar. Beliau mencontohkan Barack Obama dengan semboyannya yang terkenal “Yes We Can”, atau Presiden Uni Soviet terdahulu, Mikhail Gorbachev dengan gerakan Glasnost dan Perestroika-nya. Mereka yaqin terhadap tujuannya dan kemudian sabar dalam mencapainya. Hanya saja karena mereka tidak menerima Islam, maka tentu tidak termasuk orang beriman, apalagi pemimpin yang islami.

Pertanyaan terakhir dari Rioz adalah mengenai siapa calon presiden Indonesia saat ini, yang layak dianggap pemimpin yang islami. Mas Poer menjawab, belum ada yang betul-betul sesuai dengan kriteria di atas. “Akan tetapi, apa yang tidak dapat dicapai seluruhnya, jangan ditinggalkan semuanya,” tambah Mas Poer menyitir sebuah kaidah fiqh. Dengan kata lain, pilihlah pemimpin yang paling dekat dengan syariat.

Tanpa melihat motif, maksud atau niat yang tersembunyi dalam hati setiap calon, Mas Poer mengajak teman-teman yang hadir saat itu untuk memilih calon yang secara lahir telah terlihat menerapkan syariat Islam, minimal untuk diri dan keluarganya*). “Sebab yang bisa kita nilai itu yang sifatnya dzahir,” ujar Beliau. Kita tidak bertanggung jawab terhadap apa yang tidak bisa kita nilai. Menurut Mas Poer, calon presiden yang telah menerapkan syariat Islam, walaupun sedikit, Insya Allah akan terus dibimbing Allah SWT untuk tetap berada di jalan-Nya, dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa ini.

Jawaban Mas Poer sekaligus menutup acara hari itu, bertepatan dengan masuknya waktu shalat Dzuhur. Pengajian Siaware berikutnya Insya Allah akan dilangsungkan bulan depan pada pekan ketiga, pada hari, waktu dan (mungkin) di tempat yang sama. Wassalam.[]

*) Dengan tidak mengurangi esensi dan substansinya, sebagian perbincangan dalam pengajian ini dengan sengaja telah disunting karena dianggap cenderung mendukung salah satu pasangan capres. Harap maklum.