lari-pagi_31Hari Minggu, enaknya tidur. Tapi lebih enak lagi lari pagi di Sabuga. Biasanya, lari pagi aku selalu berakhir kembali di kasur, setelah singgah sebentar di lapak susu murni Pak Mujahidin, atau Warung Bubur Ayam Mang Oyo. Selalu begitu, tidak ada yang baru.

Tapi hari Minggu kemarin beda.

Pertama, lari pagi lagi setelah hampir sebulan males-malesan di kasur, dengan alasan Matahari sembunyi terus di balik awan.

Kedua, sekali-kalinya lari pagi, aku melihat orang hampir baku hantam. Gara-garanya apa nggak jelas. Sepertinya ada seorang bapak yang marah kepada panitia turnamen sepakbola cilik antar SSB (Sekolah Sepak Bola). Mungkin marah karena track jogging mau ditutup. “Saya ini pelari maraton Jawa Barat Pak! Saya ngerti soal lari!” semprot si Bapak. Karena dua orang itu hanya tarik-tarikan tangan dan nggak jadi berkelahi, aku lantas berlalu saja.

Ketiga, eeeh, baru jalan 5 meter, aku melihat orang-orang berkerumun di dekat area pemanasan sebelah selatan (dekat gerbang ke terowongan). Tampak beberapa pria melepaskan lempeng penutup got satu per satu. Wah, ternyata ada anak perempuan yang kakinya terjepit lubang di celah-celah antar lempeng itu.

Akhirnya lepas juga kaki anak itu. Untung dia perempuan, ga banyak gerak, jadi kakinya nggak patah atau terkilir. Untungnya lagi, anak ini nggak cengeng. “Udah nggak apa-apa ya De’. Yang salah lubangnya kok,” ujar sang ibu sambil mengelus-elus kaki anaknya. Kasihan ya lubangnya, kan dia juga nggak salah apa-apa.

Keempat, selepas lari langsung nyuci tumpukan pakaian sisa seminar pekan lalu.  Padahal biasanya sampe rumah langsung tidur. Aku nyuci sampai 13 potong. Padahal biasanya cuman nyuci 6-8 potong.

Kelima. Habis nyuci aku ke Salman. Soalnya malamnya ada urusan penting banget pokoknya. Hari sudah menjelang sore. Sehabis Asar, waktu mau naik ke lantai 2, si Sari (anak baru Crayon  dan Karisma) nawarin jualannya: makanan-minuman ringan. Ada gelas plastik berisi cairan yang warnanya mirip cat tembok. Langsung saya tolak. Karena disodorin terus, akhirnya kubeli juga yang kelihatan warna coklat.

Nah, begitu aku mau minum itu minuman di depan komputer, si Elma (istrinya Firman) nyeletuk, “Apaan tuh?”. “Nggak tahu, tadi beli di bawah, kayaknya sih coklat,” jawabku. “Itu bukannya pop ice? Iiih, Salim minum pop ice. Itu kan minuman anak SD?” ejek Elma. “Ah, masak siy?” tanyaku sambil mulai mencicipi minuman itu.  Ya Alloh, rasanya emang kayak Sustagen HP rasa coklat.

“Ya iyalah, liat aja iklannya di TV, isinya anak-anak semua kan?” celetuk Elma. Aku diam aja. Terus menyeruput pop ice. “Aku baru sekarang minum pop ice Ma,” jawabku sekenanya. Memang baru waktu itu kok aku minum pop ice :-) Untung si Elma buru-buru pergi sore itu. Ditunggu temennya entah di mana. Jadi aku tidak harus lama-lama minum pop ice dengan rasa malu…

Keenam. Magrib menjelang. Nah, abis Magrib aku siap-siap untuk urusan penting malam itu: shooting Mas Moedji di Bosscha. Setelah sorenya berjuang bongkar-bongkar Front Office Salman nyari kunci, akhirnya mobil siap dipake menjelang setengah 7.  Yak, berangkat. Ambil jalur PPR Dago terus ke Lembang, lewat jalan berbatu-batu sambil mendengarkan sumpah serapah Kang iQbal untuk Boediono. Isinya tidak perlu dibahas (takut dianggap black negative campaign).

Alhamdulillah lancar shooting-nya! Mas Moedji bisa ngomong lebih terarah, tidak melebar ke kiri dan ke kanan. Kami juga berhasil ambil beberapa footage kegiatan peneropongan malam di Bosscha (dengan aku sebagai figuran :-) ).  Yah, mudah-mudahan proyek VCD dengan Kandepag Jabar ini bisa lancar, selesai pekan kedua Juli. Amiiiin…

Malam sekitar jam 10 kita pulang dengan perut kosong, gara-gara aku koar-koar bilang Bu Moedji pengen kita makan malam di rumahnya di Bosscha. Jadinya ga ada yang sempet makan malam. Lagian pas tadi mau berangkat udah mepet jam 7. Takut kemalaman ke Bosscha-nya.

Terima kasih semua makhluk. Untuk hari Minggu yang berbeda dari hari-hari Minggu sebelumnya…[]