ramadhan2Ahad pagi menjelang siang, 19 Juli 2009, suasana rumah Mr. Sano kembali diberkahi (Insya Allah) dengan kegiatan Pengajian SIAWARE. Kurang sebulan menjelang Ramadhan, pengajian kali ini diisi dengan sharing pengalaman dan ilmu tentang bagaimana memaknai “Bulan Seribu Bulan” tersebut.

Seperti biasa, kami didampingi Ustadz Abu Yahya Purwanto, atau lebih akrab dipanggil Mas Poer. Beliau adalah alumni Astronomi ITB ’85, yang kemudian menimba ilmu agama sambil bekerja di Arab Saudi selama beberapa tahun. Hadir dalam acara ini Salim, Acil, Dhian, dan Zie.

Sesuai tradisi yang dihidupkan dalam Pengajian SIAWARE, acara dimulai dengan sharing tentang pengalaman pribadi masing-masing dalam menyambut Ramadhan. Dimulai dengan Salim, yang pada intinya merasakan bahwa sejak kecil, suasana Ramadhan selalu berbeda dengan bulan-bulan yang lain. Jika waktu kecil suasana yang dirasakan adalah kegembiraan (banyak makanan, tarawih dan subuh ramai, kumpul dengan teman-teman dan keluarga, dll.), maka semakin dewasa suasana yang dirasakan adalah kesyahduan. “Pagi hari di bulan Ramadhan itu pasti rasanya lebih syahdu dibanding pagi hari di bulan lain,” tutur Salim.

Suasana Ramadhan yang ‘beda’ dengan bulan-bulan lain, juga dirasakan Dhian. Menurut Dhian, suasana Ramadhan yang seperti itu sangat mendukung untuk introspeksi. “Ramadhan itu bulan muhasabah,” tegas Dhian. Hanya saja, tambahnya, jangan sampai hal-hal jelek yang telah kita introspeksi selama Ramadhan, malah terulang kembali di bulan-bulan lain.

tarawih-bersamaLain lagi menurut Zie. Baginya, Ramadhan lebih identik dengan aktifitas ibadah yang intensif. “Soalnya waktu kecil dulu di Majalengka dikondisikan sering ke masjid,” ujar Zie. Sayangnya, kata Zie, setelah pindah ke Bandung pengondisian tersebut tidak terjadi lagi di keluarganya. Namun tetap saja Ramadhan diliputi kegembiraan karena keluarganya jadi lebih sering berkumpul.

Pengondisian oleh keluarga selama Ramadhan juga dialami Acil. Mulai dari kewajiban berpuasa sejak kecil sampai ke ibadah tarawih, tadarus dsb., selalu dibiasakan dalam keluarganya. Acil mengakui, sekarang dirinya tidak lagi bergantung pada pengondisian seperti itu, dan sudah terbiasa mencari target-target pribadi untuk penempaan diri di bulan Ramadhan. “Kalau dulu, sering ngumpet di belakang lemari, makan pisang sembunyi-sembunyi biar nggak ketahuan Bapak,” kenangnya sambil nyengir. Jika ada yang sama antara Ramadhan sekarang dan masa kecilnya dulu, tak lain adalah kedekatan dengan keluarga. “Maaf-maafannya sampai nangis-nangis,” tutur Acil.

Menurut Mas Poer, keakraban dengan keluarga, kesyahduan dan kegembiraan yang diceritakan teman-teman tadi barulah sebagian kecil dari kebaikan bulan suci Ramadhan. “Seandainya umatku tahu seluruh kebaikan yang ada dalam Ramadhan, niscaya mereka akan berangan-angan semua bulan itu adalah Ramadhan,” demikian sebuah hadits yang disitir oleh Mas Poer.

Lebih lanjut Mas Poer menggali makna Ramadhan ditinjau dari tujuan hidup manusia. Jika ditanya, semua orang rasanya akan menjawab bahwa tujuan hidupnya adalah BAHAGIA. Di sisi lain, manusia diciptakan Allah SWT untuk BERIBADAH, sebagaimana tersurat dalam ayat berikut.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

(Q.S. Adz-Dzariyaat ayat 56)

Lalu untuk siapa manusia beribadah? Jika jawabannya adalah untuk Allah, maka Allah Maha Kaya. Ia tidak membutuhkan sesuatu apa pun dari makhluk-Nya. Allah juga tidak membutuhkan pernyataan beriman dari manusia lewat ibadah. Sebab, jika mau, Dia mampu membuat semua manusia beriman kepada-Nya. Jika ibadah tidak bermanfaat bagi Allah sendiri, maka berarti ibadah hanya bermanfaat bagi pelakunya, yaitu manusia. Tidak mungkin ibadah tidak bermanfaat kepada siapapun, sebab Allah SWT tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

(Q.S. Ali Imran: 191)

Kita yakin bahwa Allah Maha Tahu, maka tentunya Dia pun paham keinginan manusia untuk bahagia. Dengan demikian, jika tujuan ibadah adalah untuk manusia, maka Allah meminta kita beribadah agar kita bahagia. Perintah dan larangan yang diberikan-Nya adalah bentuk cinta-Nya kepada kita. Dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan tersebut, maka kita akan mencapai kebahagiaan.

syurga2Seperti apa bentuk kebahagiaan yang dapat diperoleh dari beribadah? Ustadz menegaskan, bentuk tertinggi kebahagiaan adalah kemuliaan di surga. Surga hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang bertakwa (beriman dan beramal saleh).

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

(Q.S. Al-Baqarah: 25)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa…

(Q.S. Ali Imran: 133)

Sementara puasa Ramadhan beserta amal-amal ibadah lain di dalamnya, bertujuan untuk membentuk ketakwaan.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa…

(Q.S. Al-Baqarah: 183)

Bagaimana ibadah Ramadhan dapat membentuk ketakwaan? Mas Poer menyodorkan lima poin untuk menjawab pertanyaan ini:

  1. suasana Ramadhan mendukung kita untuk taat pada perintah dan menjauhi larangan-Nya (yaitu definisi sederhana dari takwa itu sendiri);
  2. orang yang berpuasa senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT, dalam keadaan sepi sekalipun ia tidak mau membatalkan puasanya;
  3. menyempitkan jalur lalu lalangnya setan, yaitu lewat pembuluh darah berdasarkan sebuah hadits Rasulullah SAW: “…sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia pada aliran darahnya…” (H.R. Bukhari dari Ali Husain r.a.)
  4. orang yang berpuasa lebih termotivasi untuk memperbanyak ibadah;
  5. orang yang berpuasa lebih mampu berempati terhadap penderitaan sesama manusia.

Tentunya sangat disayangkan jika momen Ramadhan ini terlewat begitu saja, tanpa usaha sungguh-sungguh dari kita untuk menumbuhkan ketakwaan di dalamnya. Namun, bagaimana jika karena satu dan lain hal kita terpaksa tidak berpuasa?

Mas Poer kemudian melanjutkan pembahasan dengan bentuk-bentuk keringanan maupun konsekuensi fikih bagi mereka yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Landasannya adalah ayat-ayat berikut.

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

… Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

(Q.S. Al-Baqarah: 184-185)

buka-bersamaDari ayat tersebut jelas bahwa orang yang tidak mampu berpuasa dalam bulan Ramadhan, diwajibkan menggantinya di hari-hari lain. Hal ini lebih utama karena dengan begitu orang tersebut tetap dapat merasakan kebaikan puasa. Namun jika yang bersangkutan secara medis ternyata memang tidak mampu berpuasa, maka ia boleh membayar fidyah sebanyak 1½  kg makanan pokok yang biasa ia makan.

Kapan seseorang dibolehkan membayar fidyah? Kapan ia harus mengganti (meng-qadha) puasanya? Ustadz menjawab dengan memaparkan empat kategori berikut:

  1. orang yang sakit, berpergian atau hamil/menyusui, wajib mengganti puasa yang ia tinggalkan, pada hari-hari lain di luar bulan Ramadhan;
  2. orang yang terus menerus sakit, boleh mengganti puasa yang ia tinggalkan dengan membayar fidyah;
  3. orang yang khawatir akan kesehatan anaknya (ibu menyusui selama dua Ramadhan berturut-turut), atau terlupa meng-qadha utang puasa dari Ramadhan sebelumnya dan kembali tidak mampu berpuasa di bulan Ramadhan berjalan, maka ia boleh membayar fidyah untuk bulan Ramadhan sebelumnya namun tetap meng-qadha puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan berjalan;
  4. orang sakit-sakitan (lanjut usia, tidak lagi bisa sembuh) yang sedang bepergian, dalam hal ini ia tidak perlu membayar fidyah dan tidak wajib meng-qadha puasa yang ditinggalkannya.

Mas Poer juga tak lupa menyinggung tentang pentingnya memperbanyak doa dalam bulan suci Ramadhan. Ramadhan adalah bulan di mana doa-doa yang kita panjatkan berpeluang besar untuk mustajab (dikabulkan). Hal ini tersirat dari diletakkannya ayat tentang doa di tengah-tengah ayat-ayat yang membicarakan puasa Ramadhan, yaitu:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

(Q.S. Al-Baqarah ayat 186)

Doa kita senantiasa dikabulkan oleh Allah SWT, hanya saja menurut Mas Poer, bentuk pengabulannya berbeda-beda:

  1. dikabulkan sesuai permintaan manusia;
  2. pengabulannya diganti dengan yang lebih baik;
  3. menjadi penghindar/penghalang dari musibah;
  4. dicatatkan sebagai pahala pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.

iktikafSaat-saat paling mustajab untuk berdoa dalam Ramadhan adalah 10 hari terakhir. Pada saat-saat ini, ujar Mas Poer, Rasulullah SAW memperbanyak ibadah di masjid dengan beri’tikaf. I’tikaf tidak berarti selama 10 hari harus 24 jam berada di dalam masjid. Aktifitas sehari-hari tetap boleh dilakukan selama masa i’tikaf. Namun Mas Poer mengingatkan, meskipun berada di luar masjid, pasangan suami-istri yang beri’tikaf tetap tidak diperbolehkan berhubungan badan di malam hari.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

(Q.S. Al-Baqarah: 187)

Penjelasan tentang i’tikaf menutup pengajian hari itu. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi bebas yang cukup menarik antara Mas Poer dengan teman-teman SIAWARE yang hadir. Isi diskusi ini sendiri betul-betul meluas dari tema Ramadhan, dan tidak cukup untuk ditampilkan semuanya dalam tulisan ini. Namun saya percaya, semangat dan wawasan diskusi-diskusi seperti ini akan dapat teman-teman temukan kembali dalam pengajian-pengajian SIAWARE berikutnya. Sampai jumpa :-)

Wassalam… [Salim]

Profil Abu Yahya

1. berdasarkan sebuah hadits Rasululullah SAW:

“… sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia pada aliran darahnya..

(H.R. Bukhari dari Ali Husain r.a.)