
Adenita
Pentingnya Dukungan Komunitas
Ahad sore, 23 Agustus 2009, kediaman David (SIAWARE 11) mendadak ramai. Sekitar 86 orang alumni SIAWARE dari berbagai angkatan berkumpul di rumah antik itu, yang berlokasi di Jalan Wastukancana No. 83, depan Lab Prodia. Teman-teman SIAWARE hari itu berbondong-bondang menghadiri acara buka bareng spesial.
Mengapa disebut spesial? Pertama, buka bareng ini diadakan untuk menyambut teman-teman SIAWARE 16 yang baru saja bergabung dengan komunitas SIAWARE. Kedua, berbeda dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya, buka bareng hari itu menghadirkan dua orang—tidak hanya satu—pembicara. Mereka adalah Adenita (SIAWARE 8 ) dan Ustadz Abu Yahya Poerwanto (Mas Poer).
Ternyata, kegiatan buka bareng ini adalah kolaborasi antara kegiatan pengajian dan sharing komunitas SIAWARE. Kegiatan pengajian yang berisi pembahasan topik-topik aplikatif dari sudut pandang Islam, digabungkan dengan kegiatan sharing yang berisi curahan pengalaman dan pencapaian para alumni SIAWARE. Sebagai tema kegiatan kolaborasi ini, maka Adenita dan Mas Poer menghadirkan topik: “Konsistensi dalam Meraih Impian”.
Selepas shalat Ashar, Ade—demikian panggilan akrab Adenita—mulai dengan kisah mengenai impian-impian pribadinya dan bagaimana ia berjuang mencapainya. Lewat power point, Ade pertama kali menunjukkan selembar dream board hasil SIAWARE, yang berkali-kali dicopot-pasang sampai lecek. Dari benda itulah impiannya dimulai. Di sini Ade menekankan pentingnya membuat impian sedetail mungkin, terutama kapan kita ingin impian itu tercapai.
Ngomong-ngomong, di SIAWARE-lah Ade menemukan salah satu impian besarnya, yaitu menulis buku. Tiga tahun setelah SIAWARE 8 pada Desember 2005, Ade berhasil meluncurkan bukunya yang diterbitkan Grasindo, pada bulan November 2008. Buku tersebut berwujud novel berjudul Sembilan Matahari.
Selain impian yang detail, yang tidak kalah pentingnya adalah lingkungan yang mendukung, memberi energi positif, menjaga konsistensi kita dalam meraih impian. Di sinilah Ade betul-betul merasakan manfaat SIAWARE dan komunitasnya. Bahkan dorongan untuk mengikuti SIAWARE pun datang dari rekan-rekannya yang lebih dahulu ikut. Ade bercerita bagaimana seorang karibnya itu rela menanggung sebagian biaya pendaftaran SIAWARE-nya.
Diceritakan pula bagaimana Ade yang tidak punya komputer mampu menyelesaikan file naskahnya tepat waktu. “Deasy (SIAWARE 5) nawarin monitor tapi CPU-nya rusak, nah untungnya Gilang (SIAWARE 9) mau minjemin CPU, yang kebetulan monitornya rusak. Akhirnya aku bisa ngetik dengan pinjaman dari mereka berdua,” tutur Ade sambil terkekeh.
Namun, yang tidak boleh dilupakan dalam meraih impian adalah pengorbanan yang bersedia kita berikan demi impian tersebut. Ade memaparkan kaidah 10.000 jam yang dipraktekkan orang-orang sukses. Intinya, orang sukses rela mengorbankan waktu yang panjang, untuk konsisten menapaki langkah-langkah kecil berulang-ulang. Langkah-langkah kecil itu bisa bernama eksperimen, latihan, penjualan, atau apapun. Mereka sukses karena bersedia mengorbankan waktu lebih banyak dari orang lain, yang notabene melakukan pekerjaan yang sama. ‘Jam terbang’ dalam bidang yang digeluti adalah syarat kesuksesan.
Dalam sesi tanya jawab dengan Adenita, Radix (SIAWARE 15) bertanya, berapa kali naskah Adenita ditolak sebelum diterbitkan? “Tidak pernah,” jawab Ade tersenyum. Naskah yang ia tawarkan langsung diterima Grasindo. Apa rahasianya? Ternyata, Ade rajin melakukan shalat dhuha dan sedekah. Ia merasa, dua amalan itulah yang membantunya melancarkan segala urusan.
Icha (SIAWARE 16) melontarkan pendapat, sepertinya isi buku Sembilan Matahari itu pengalaman pribadi Adenita. Ade lekas mengiyakan. Tapi bukan hanya pengalaman pribadi yang diangkatnya. Ade juga mengungkap apa yang ia saksikan dari teman-temannya semasa kuliah. Ia mengaku gemas sekaligus tersentuh melihat kehidupan mereka. “Bayangkan, ada orang-orang yang tetap semangat kuliah walaupun buat fotokopi catatan kuliah 2-3 lembar saja nggak mampu,” tuturnya “sementara ada yang sudah diberi fasilitas lengkap dan mewah masih juga malas-malasan.”
Penanya lain, Adit (SIAWARE 16), ingin tahu apakah semangat Ade pernah drop selama mengejar impian. “Ya pernah. Waktu nulis itu saya belum lulus-lulus juga kuliahnya,” jawabnya sambil terbahak. Meski demikian, lagi-lagi Ade terbantu oleh teman-temannya di SIAWARE. Ia tersentuh mengenang betapa mereka yang sudah lebih dulu sukses tetap setia memotivasinya. “Mereka bilang ke saya, ‘Oke De, apa yang bisa gw bantu buat lo?’ ” tutur Ade menirukan teman-temannya.
Terakhir, Andik (SIAWARE 5) menanyakan, apa hal terbesar yang didapat Adenita dari SIAWARE. Ade tegas menjawab, bahwa hal terbesar yang ia dapat adalah materi-materinya dan dukungan dari komunitas SIAWARE.
Sebelum menutup sesi sharing-nya menjelang pukul 17:00 WIB, Ade mohon doa dari teman-teman yang hadir sore itu agar cita-cita berikutnya tercapai. Apa saja sih cita-cita Ade? Selain menulis bukunya yang kedua, ternyata Ade bercita-cita menikah, segera setelah calon suaminya pulang ke Indonesia. Amiiiin…
Konsisten Meraih Ridha Ilahi

Mas Poer
Setelah Adenita, giliran Mas Poer tampil ke hadapan teman-teman. Kali ini, konsistensi dan tujuan dikupas dari perspektif Islam. Konsistensi dalam khazanah Islam dikenal dengan istilah istiqomah. Salah satu ayat Al-Qur’an tentang istiqomah adalah:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’ “.
[Q.S. 41:31]
Konsistensi atau istiqomah menurut Mas Poer akan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang mengantarkan kita kepada tujuan. Terkait ayat di atas, tujuan tertinggi seseorang seharusnya adalah ridha Allah SWT. Namun selain tujuan tertinggi yang jangkanya sangat panjang, setiap orang tentunya punya tujuan yang berjangka lebih pendek di dunia ini.
Lantas bagaimana caranya konsisten untuk meraih tujuan baik jangka pendek maupun panjang? Mas Poer menguraikan resep yang ia kutip dari buku 10 Kebiasaan Pribadi Sukses Tanpa Batas karangan Dr. Ibrahim bin Hamd Al-Qu’ayyid, seorang penulis buku motivasi best seller di Arab Saudi. Menurut Mas Poer, Dr. Ibrahim—yang mengaku sedikit banyak terpengaruh buku Seven Habits karya Stephen R. Covey, dan juga buku-buku Dale Carnegie—menegaskan bahwa ada 2 kebiasaan yang membuat orang menjadi sukses. Kedua kebiasaan itu adalah mencapai keunggulan dan menetapkan tujuan.
Keunggulan dalam hal apa? Ada 3 keunggulan yang harus diraih. Pertama, keunggulan dari aspek keimanan/keyakinan. Hanya orang yang betul-betul yakin atas sebuah tujuan, yang akan dapat mencapainya.
Kedua, keunggulan dari aspek pengetahuan/keterampilan dalam bidang tertentu. Keunggulan ini diperlukan agar seseorang dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuannya. Ini terkait dengan kaidah 10.000 jam yang telah dipaparkan sebelumnya oleh Adenita.
Keunggulan ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah keunggulan dalam hal networking, yaitu bagaimana membangun hubungan positif dengan orang lain. Dengan demikian seseorang akan selalu mendapat dukungan dari orang lain.
Kebiasaan kedua yang perlu dibangun adalah menetapkan tujuan. Tujuan seseorang bisa datang dari tiga sumber: sumber ilahiyah (Al-Qur’an dan Sunnah); sumber masyarakat: orangtua, keluarga, teman-teman; dan sumber individu yaitu paradigma, nilai-nilai, dan keinginan pribadi.
Tujuan yang datang dari sumber ilahiyah sudah jelas, yaitu surga yang diperoleh dengan ridha Ilahi. Adapun tujuan yang bersumber dari masyarakat bisa berbeda-beda. Mas Poer mencontohkan, di Indonesia, masyarakat menganggap profesi yang paling bergengsi adalah insinyur atau dokter, sementara profesi sebagai ustadz/ulama dianggap tidak begitu bonafid. Akibatnya, jurusan yang paling diminati di perguruan tinggi adalah teknik dan kedokteran, sementara jurusan agama sangat sedikit peminatnya.
Akan tetapi, di Arab Saudi yang terjadi adalah kebalikannya. Ulama diberi gaji yang sangat tinggi oleh pemerintah dan dihormati masyarakatnya. Sehingga di universitas-universitas di sana pun, jurusan yang diperebutkan kursinya adalah jurusan syariah.
Jika paradigma masyarakat saja bisa berbeda-beda, apalagi paradigma tiap individu. Karena itu, tujuan setiap orang sudah pasti berlainan. Meski demikian, pada dasarnya semua manusia menginginkan kebahagiaan, dunia dan akhirat. Jalan menuju kebahagiaan dalam Islam diistilahkan sebagai shirath al-mustaqim. Seperti apa shirath al-mustaqim itu?
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
[Q.S. 1:7]
Dari ayat di atas, menurut Mas Poer, dapat dibedakan tiga jenis manusia tergantung jalan yang ia tempuh dalam hidupnya:
- manusia yang menempuh jalan yang lurus: mengetahui kebenaran dan melaksanakannya;
- manusia yang menempuh jalan yang sesat: tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah;
- manusia yang menempuh jalan yang dimurkai: mengetahui mana yang benar namun tidak mau melaksanakannya.
“Mengetahui kebenaran dan melaksanakannya” berarti hidup sesuai ajaran Islam. Dengan demikian, kebahagiaan dalam perspektif Islam akan tercapai jika manusia mematuhi segenap perintah dan menjauhi larangan-Nya, atau dengan kata lain beramal saleh (lihat artikel “What is Ramadhan for Me?”).
Nikmat atau bentuk kebahagiaan yang diperoleh di akhirat setelah menempuh shirath al-mustaqim adalah surga, dan juga kesempatan untuk bertatap muka dengan Allah SWT, sebagaimana disampaikan dalam ayat-ayat berikut:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.”
[Q.S. 10:26]
“……. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya“.
[Q.S. 18:110]
Dalam sesi tanya jawab menjelang waktu berbuka, penanya pertama, David, bertanya mengapa kita sering tidak konsisten, terutama dalam menjalankan ajaran Islam. “Apa yang salah dengan diri saya, dengan para ulama yang begitu banyak di masyarakat?” ujarnya.
Mas Poer menjawab bahwa hambatan dalam menjaga konsistensi dapat bersumber dari godaan syaithan, dan juga persepsi masyarakat. Seperti halnya saat ini, ujar Mas Poer, dimana masyarakat menjadi enggan belajar agama karena takut terpengaruh ajaran sesat, menjadi teroris dsb. Padahal Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
[Q.S. 5:105]
Pertanyaan kedua datang dari Indri (SIAWARE 6). “Bagaimana saya bisa tahu, musibah yang datang kepada saya itu sebuah ujian atau teguran?” tanya Indri. Mas Poer menganjurkan shalat istikharah, seraya meyakinkan Indri agar percaya kepada kata hatinya. Beliau merujuk firman Allah:
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
[Q.S. 64:11]
Pertanyaan ketiga dari Icha, mengenai menjalin hubungan positif dengan orang lain. Apakah kita memang boleh menjalin hubungan baik dengan seseorang dengan tujuan memperoleh bantuan darinya? “Ada dua tipe manusia,” ujar Mas Poer menjawab pertanyaan Icha, “networker dan manipulator.”
Networker berbuat dan menjalin hubungan baik dengan siapa saja tanpa peduli bantuan apa yang dapat diperoleh dari orang tersebut. Sebaliknya, manipulator hanya berpura-pura baik sampai apa yang diperolehnya dia dapatkan dari orang lain. Mas Poer mengingatkan agar kita menjauhi perilaku manipulator, yang jelas-jelas dilarang lewat firman Allah:
“… dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”
[Q.S. 74:6]
Akhirnya, bersamaan dengan masuknya waktu Maghrib, Mas Poer selesai menjawab pertanyaan Icha. Para peserta menikmati sajian berbuka puasa, untuk selanjutnya shalat Maghrib dan makan malam. Sambil menikmati makan malam, teman-teman SIAWARE mendapat info-info seputar kegiatan SIAWARE, yaitu Self Transformation (ST) V yang akan dilaksanakan akhir tahun 2009 ini, kegiatan rutin sharing dan pengajian, sampai rencana halal bi halal SIAWARE. Acara malam itu ditutup dengan pembacaan puisi dari Okky Indra Putra (SIAWARE 12).
Sampai bertemu lagi dalam kegiatan pengajian berikutnya ^_^

2 comments
Comments feed for this article
September 4, 2009 at 12:35 pm
Riozz
Foto-nya Ade cantikk
)
October 7, 2009 at 7:30 pm
fathya
Saya alumni SIAWARE juga, tp tinggal di jakarta, jadinya kurang eksis alias langsung lost contact sama anak2 SIA-13 (angkatan sy) bahkan kalo skrg ketemu lagi pasti bakal butuh name-tag ky pertama kali sesi, haha.. Sebenernya pengen banget tetep bisa gabung dan dpt dukungan lahir batin kyk temen2 yg lain. Dari sekian mimpi gw yg gw bikin 2 tahun yg lalu masih belum ada yg “betul-betul” terwujud. Hmmm… gw rada takut pingin ngikut self transformation, pasti lebih parah dibanding siaware. Ada bocoran ga, before – after nya?