Nelofer Pazira (tengah) bersama iQbal Alfajri dalam diskusi The Beauty of Afghanistan yang dipandu Atta Verin (kiri)

Film bukan hanya untuk menghibur, namun juga untuk menyampaikan pesan. “Kalau gambar yang diam saja bisa berbicara seribu kata, apalagi film yang bergerak,” ujar iQbal Alfajri, sineas Salman Films, dalam Diskusi “The Beauty of Afghanistan”, Ahad (15/08) pukul 10:00 – 12:00 WIB.

iQbal bertindak selaku pembahas dalam diskusi yang berlangsung di area paving block Masjid Salman ITB tersebut. Diskusi ini menghadirkan pembicara utama Nelofer Pazira, dengan moderator Atta Verin, seorang penulis dan pemerhati sastra. Nelofer adalah seorang perempuan Afghan yang menjadi penulis, sutradara sekaligus pemain film Kandahar (2001) dan Return to Kandahar (2003). Ia yang kini menjadi warga negara Kanada, hadir di Salman atas kerjasama Divisi Pengkajian & Penerbitan YPM Salman ITB, Canada Embassy, dan Penerbit Mizan.

iQbal, yang filmnya pernah menembus festival film Cannes di Prancis pada 2005, mengaku terinspirasi dengan film Kandahar karya Nelofer. Menurutnya, film itu “manis sekaligus tragis”. iQbal tidak bisa melupakan gambaran orang-orang Afghan yang buntung kakinya karena ranjau, berlari di padang pasir mengejar kaki-kaki palsu yang dijatuhkan dari helikopter.  Ia melihat, semangat orang-orang itu untuk tetap melanjutkan hidup tergambarkan dengan kuat. Film tersebut, aku iQbal, adalah salah satu pendorong ia dan rekan-rekannya mendirikan Salman Films, dalam rangka menghasilkan film-film yang membawa pesan islami.

Nelofer, di hadapan sekitar 30 orang hadirin, mengiyakan pandangan iQbal bahwa film-filmnya memuat gambaran yang “bitter but sweet”. Film-film tersebut ia buat karena panggilan jiwa untuk berkontribusi bagi tanah kelahirannya, Afghanistan. Dalam film Kandahar (2001) misalnya, ia memotret sisi kehidupan Afghanistan. Sementara Return to Kandahar (2003), yang diputar sejam sebelum diskusi dimulai, mengisahkan perjalanan Nelofer kembali ke Afghanistan untuk mencari teman masa kecilnya, Dyana. “Saya yakin bahwa setiap orang dianugerahi kemampuan unik untuk berkontribusi bagi kemanusiaan, dan saya merasa kemampuan saya adalah membuat film,” tuturnya.

Mengenai persoalan di Afghanistan saat ini, Nelofer menyampaikan bahwa intervensi asing bukanlah akar masalahnya. Menurutnya, posisi Afghanistan yang dijepit negara-negara besar, rendahnya tingkat pendidikan, korupsi yang marajelela dan kesukuan yang sangat kental, membuat negara ini rentan terhadap kolonialisme dan intervensi asing. [salim]