kusangka waktu berhenti
guguran daun diam mengambang
enggan memijak bumi
tiap helainya terbuai dekapan angin sore

kusangka waktu berhenti
sepotong cheese cake tersangkut
lembut, gurihnya membalut lidah
tak habis-habisnya melumeri hati

kusangka waktu berhenti
sembilu duka yang mengiris hati
tak tega mengoyak lebih lebar
perih di dada sembuh sebentar

O Sang Kala
apa gerangan
tumbal yang kau minta
untuk semua kemewahan ini

ke mana perginya arusmu
yang tanpa ampun
selalu menggerus! selalu menghapus!
menyisakan tanya dan sangka

“Wahai Sang Pengelana
arus ku tak kenal henti
mengantar semua yang berawal
menemui akhir di lautan kekekalan

kembalilah, susuri takdirmu
jumpai perpisahan, tinggalkan perjumpaan
pungutlah bekal untuk pelayaran panjang
dari jernihnya makna yang kau reguk

karena bukan waktu yang berhenti
tapi jam dindingmu yang mati”

Advertisement