Kapan pertama kali kamu jatuh cinta? Kalau saya sih, waktu TK, sama guru TK saya yang saya sudah lupa namanya. Tapi saya bukan mau cerita itu. Saya mau cerita bahwa saya pernah jatuh cinta tanpa saya sadari. Jatuh cinta pada majalah yang namanya TEMPO. Memang sungguh-sungguh enak dibaca walaupun saya tak tahu perlunya untuk apa. Dan saya baru sadar itu namanya jatuh cinta, belasan tahun kemudian. Ya sekarang ini.

Kamu bayangkan seorang anak laki-laki SD yang badannya ringkih, ditiup angin pun melambai. Anak itu dilarang keluar rumah kecuali untuk sekolah (dan untungnya juga untuk ulang tahun teman-temannya). Teman bermainnya di rumah hanya seorang anak perempuan, ya itu adiknya, yang yaaah, dia sudah lupa hobinya apa. Mungkin saking tidak menariknya hobi adiknya itu.

Suatu hari di tengah kebosanannya dia memutuskan untuk melihat-lihat isi lemari bapaknya. Ada buku-buku tebal dan besar yang lebih besar dari semua buku pelajaran yang pernah dilihatnya. Sampulnya keras, ada foto dan tulisannya. Ada juga yang kelihatan seperti buku-buku yang dijahit dengan bahan kain celana panjang bapaknya dan benang kasur. “Itu namanya bundel majalah”, kata bapaknya, yang tampaknya memang senang mengumpulkan buku-buku itu. “Tapi itu bacaan orang besar,” tambah bapaknya. Orang besar itu maksudnya orang dewasa.

Yah, apa daya. Majalah Bobo memang dia suka, Ananda juga. Majalah Siswa, komik nabi-nabi juga senang dibacanya. Tapi semua itu jarang ada. Paling-paling kalau ibunya punya sisa uang belanja, atau teman sekolahnya ada yang bawa. Jadilah anak laki-laki itu, ya itu saya, tenggelam dalam bacaan orang “dewasa”. Ada banyak cerita di dalamnya. Kalau diingat-ingat, isinya beda dengan berita di koran yang dibacanya terbata-bata waktu TK. Bukan isinya sih, tapi caranya bicara, caranya bercerita. Tidak bikin orang bosan.

Waktu makan ingat bundel majalah itu. Diambil dari lemari, dibaca sambil mengunyah-ngunyah nasi. Kadang-kadang sambil sembunyi-sembunyi makan kue lebaran atau roti, sebelum kepergok adik sendiri. Mata tidak mau pergi kalau sudah sampai di rubrik Ilmu & Teknologi. Rasanya khayalan di kepala menari-nari. Aneh ya? Anak SD mestinya tidak bisa mengerti soal-soal begini, tapi kenapa tetap bisa menikmati?

Dengan TEMPO saya terbang ke mana-mana. Saya ingat apa-apa yang saya baca, yang tidak dilihat oleh teman-teman saya sebaya. Saya masih ingat waktu SD kelas tiga, tahun 1990 waktu Irak menyerang Kuwait. Kelompok CBSA saya semuanya mendukung Irak. Jangan kamu bayangkan mereka aktivis masjid. Mereka cuma terpukau seperti bapak-bapaknya, melihat ada negara yang berani melawan Amerika.

Oh ya, CBSA itu Cara Belajar Siswa Aktif. Saya tidak tahu apa artinya. Yang jelas, empat sampai lima anak disuruh duduk melingkari meja-meja yang digabung. Katanya supaya kita belajar dengan diskusi. Ooo tentu kamu tidak perlu percaya kami betul-betul diskusi. Kami kan cuman anak-anak. Kami lebih senang menumpuk tas koper di meja masing-masing (waktu itu lagi trend tas koper merk President, rasanya kalau bawa itu jadi kayak direktur atau presiden). Habis itu kami main perang-perangan dengan semua yang bisa dilempar.  Termasuk pecahan cor semen dari lantai yang bolong sana-sini.

Kembali ke Amerika dan Irak. Anak-anak suka cerita apa yang mereka lihat di tivi. Irak punya senjata kimia, Irak punya rudal SCUD katanya. “Memangnya Amerika punya apa?” tanya mereka ke saya. Saya bilang, “M1A1 Abrams.” Sebelum saya sempat cerita itu benda apa, kepala saya sudah ditoyor ke mana-mana. Itu nama tank Amerika. Sekarang saya tahu jenis tanknya: Main Battle Tank (Tank Tempur Utama). Tapi masih banyak senjata-senjata Amerika lain (dan juga Irak) yang saya baca di Ilmu & Teknologi. Kuatnya di mana, lemahnya di mana. Apa yang akan dilakukan Irak kalau Amerika menyerang. dll. Di atas kertas Amerika menang. Dan mereka memang menang kan tahun 1991? Irak memang cuma macan kertas.

Kalau Ilmu & Teknologi bikin khayalan menari-nari, maka Indonesiana bikin saya tertawa-tawa. Itu cerita-cerita nyata dari pelosok Nusantara. Saking banyaknya sampai dibukukan sama TEMPO. Ada cerita pesantren di Pulau Jawa yang santrinya main bola dengan kelapa yang direndam minyak tanah dan disulut api. Katanya dulu untuk bikin takut penjajah Belanda. Tapi sekarang Ronaldo sudah berani main itu di tivi. Mungkin karena dia dibayar puluhan jeti. Ada cerita orang bikin SIM di Yogya. Itu bukan Surat Izin Mengemudi, tapi Surat Izin Merayu. Ada-ada saja.  Banyaklah pokoknya. Ha…ha…ha…

Banyak orang-orang besar yang saya kenal dari TEMPO. Ada yang namanya B.J. Habibie. Saya seperti mimpi waktu jabat tangannya di Aula Barat ITB. Ada juga J.A. Katili, pakar gempa dan gunung api yang sering muncul fotonya di rubrik Ilmu & Teknologi. Tapi waktu saya sampai di Geologi ITB, Beliau sudah pergi dari dunia ini. Ada juga Goenawan Mohammad. Om itu suka nulis Catatan Pinggir. Dulu saya ingat bagus-bagus tulisannya. Tapi entah kenapa sekarang saya malah pusing bacanya. Pengen ketemu om itu juga.

Amien Rais, oh ya Amien Rais. Saya senang baca tulisannya tentang Timur Tengah, Israel, Palestina. Omongan Beliau yang paling saya ingat ada dua. Pertama, Islam itu jangan seperti gincu yang kelihatan merahnya saja. Tapi harus seperti garam yang tidak terlihat, tapi terasa di mana-mana. Kedua, politik luar negeri Indonesia itu kadang-kadang harus seperti kancil pilek.

Maksudnya apa?

Konon, kancil pernah dipanggil oleh harimau (atau singa?) sang raja hutan. Sang raja hutan bertanya, “Apa benar badan saya bau?” Beberapa penghuni hutan yang sudah ditanya. Ada yang jujur, bilang sang raja bau. Diterkamlah ia karena dianggap menghina. Ada juga yang karena takut lantas bilang raja tidak bau. Dimakan juga dia karena dianggap tukang bohong. Akhirnya kancil menjawab, “Maaf tuan raja, saya sedang pilek, jadi tidak tahu raja bau atau nggak.” Agak pengecut ya? Ha…ha….ha…

Ngomong-ngomong, anaknya Amien Rais dulu ada yang sering muncul jadi penyiar di Trans TV. Namanya Hanum Rais, dan jujur  saja, memang orangnya manis… Tapi di hati saya sudah ada yang lebih manis :-) Apakah saya tampil manis juga di hatinya? Oh, itu urusan dia, Tuhan dan hatinya. Saya kurang punya kuasa di sana.

Ah, banyak kenangan manis saya dengan TEMPO. Sekarang lihat bundel-bundel tuanya banyak teronggok di Aksara, saya jadi terenyuh. Mau dikemanakan ya?  Semoga ada yang mau memeliharanya.

Lihat TEMPO lagi, jatuh cinta lagi. Kau tahu, kalau lagi jatuh cinta, waktu serasa berhenti…

Hmmmmm …