You are currently browsing the category archive for the 'Jalan-jalan' category.
Hujan mulai reda, tersisa-tersisa rintik-rintiknya saja, saat saya melangkahkan kaki keluar dari halaman. Saya baru saja gagal menemukan sesuatu di tempat itu, untuk seseorang. Ah, sudahlah. Lagipula saya masih punya tempat menarik yang akan dikunjungi. Langkah kaki saya percepat, agar rintik hujan tidak terlalu membasahi jaket saya. Jaket coklat ini terlihat semakin tua warnanya karena basah. Lurus saja saya melangkah, sampai harus berbelok ke kanan, bergeser sedikit, lantas berbelok ke kiri untuk kembali mengambil jalur lurus. Jalur itu mengarah ke jalan yang sudah 6 tahun lebih tidak saya lewati, Jalan Multatuli, yang terletak di bilangan Jl. Teuku Umar dan Dipati Ukur.
Kiri kanan jalan yang saya tuju didereti pohon-pohon besar yang batangnya masih cukup dipeluk tangan orang dewasa. Rimbunan daunnya terasa sangat membantu menahan rintik hujan. Saya ingat, 6 tahun lalu saya sering memilih melewati jalan ini karena rimbunnya pepohonan. Pohon-pohon ini, emm saya tak pasti namanya apa, kerap mengeluarkan bau wangi, segar. Oh ya, mungkin ini pohon beringin. Bau wangi ini tercium terutama di pagi hari. Bersama cuitan burung, hangatnya sinar mentari yang menelusup lewat celah-celah dedaunan, bau wangi yang menyegarkan udara pagi ini membuat saya semakin ringan melangkah. Melangkah dengan cepat agar tidak terlambat kuliah jam 7 pagi.
Saya ingat, pertama kali mengisi blog ini dengan tulisan bertajuk “Default”. Ceritanya, saya beli makanan di Doddy (Gelap Nyawang). Minta dibungkus, lantas secara otomatis diberi sambal. Padahal saya nggak suka (lebih tepatnya nggak tahan) sama sambal. Saya protes dalam tulisan tersebut, mengapa hampir semua makanan di Gelap Nyawang diberi sambal. Lebih lanjut, saya bercerita mengenai betapa banyaknya default yang dibuat produsen, yang kemudian menyusahkan konsumen-konsumen minoritas. Read the rest of this entry »
