Love_stewartdesign.com

 

 

 

 

 

 

 

O Diktator Cinta

 

Kuasa-Mu membatasi, mengulangi tapi juga menambahi

sanggup membekap pelancong-pelancong buta dengan tirani

mampu menyeret mereka ke jalan-Mu yang mendominasi

sebelum mereka lembam dalam pesiar lupa diri

 

O Diktator Cinta

 

Para pelancong buta berpegangan pada pilinan-pilinan kata

tangan-tangannya terbelit jejaring wacana

limbung berdiri mencari pijakan nyata

mengira jalan-Mu kasar teraba

 

O Diktator Cinta

 

Padahal Maha Halus konspirasi-Mu

Setiap ciptaan adalah aparat-Mu

dan jejak-jejaknya adalah rambu-Mu

yang tak terbaca tanpa tuntunan-Mu

 

O Diktator Cinta

 

Memang tiada pilihan bagi ciptaan

Tapi pelancong buta butuh belas kasihan

Matanya terpejam menyimpan harapan

Kiranya pilinan-pilinan kata itu Engkau tarik perlahan

 

O Diktator Cinta

 

Segala sesuatu lekat dalam hegemoni-Mu

 

 

*terinspirasi oleh diktator cintaku di rumah, yang berkali-kali aku kudeta

Nasi goreng spesial, saya pilih fotonya yang nggak terlalu banyak minyaknya :-)_foto dari hadisida.blogspot.com

Negeri yang “Spesial”

Selama 11 tahun lebih bermukim di Bandung dengan gaya hidup ala mahasiswa, saya belajar makna sebuah kata dari sajian kuliner di Kota Kembang ini. Kata tersebut adalah “spesial”. Di warung-warung tenda yang menjadi langganan para mahasiswa (mungkin bukan para mahasiswa bermobil memacetkan Kota Bandung), biasanya Anda akan menemukan menu sebagai berikut:

(1) Nasi goreng ayam

(2) Nasi goreng udang

(3) Nasi goreng cumi

(4) Nasi goreng telur

(5) Nasi goreng seafood

(6) Nasi goreng spesial

“Spesial” pada menu no. (6) berarti, menu (1), (2), (3), (4), dan (5) dicampur menjadi satu. Rasanya bagi saya enak-enak saja. Bandung toh begitu kaya dengan makanan “hybrid”. Pernah menikmati singkong keju? Ice cream goreng? Bahkan seorang rekan saya pernah menemukan “Es Teh Manis Panas”. Mungkin makanan di Bandung disesuaikan dengan penduduknya yang kosmopolitan. Sebagai catatan, semakin sering saya mendengar logat Makassar atau wilayah-wilayah Timur Indonesia di jalan-jalan kota ini.

Mungkin aneka rasa dan bahan ketika digabungkan bisa menghasilkan rasa baru yang fantastis. Sayangnya, tidak semua hal demikian adanya. Dalam sebuah diskusi politik di UNPAD Ahad (18/03) lalu, ada pernyataan yang sebenarnya tidak baru tapi tetap menggelisahkan. “Sistem kita fragile, terbangun dari berbagai entitas. Pada dasarnya orang Indonesia itu menganut kolektivitas, (tapi?) mencomot sistem dari sana-sini dan menggabung-gabungkannya,” kata Anis Matta, Sekjen PKS.  Read the rest of this entry »

Medium is the message”, demikian petuah Marshall McLuhan 50 tahun yang lalu. Meski lima dekade telah berlalu, petuah Sang “Nabi budaya” itu masih terus kita buktikan kebenarannya sampai hari ini. McLuhan yang membawa “risalah” determinisme teknologi, mengajarkan bahwa teknologi mengubah cara kita berperilaku. Kita menciptakan teknologi dan kemudian pada gilirannya teknologi menciptakan kembali diri kita. Teknologi dan manusia adalah sebuah simbiosis yang aneh tapi nyata.

Teknologi yang paling menarik perhatian McLuhan adalah teknologi media. Teknologi ini dibahas dalam dua karyanya: “Understanding Media” dan “The Making of Typographic Man”.  Media dalam definisi McLuhan menjadi sangat luas—satu hal yang dikritik banyak ilmuwan komunikasi disamping gaya menulisnya yang nyentrik. Namun, lepas dari kritikan tersebut, McLuhan berhasil membedah sejarah kemanusiaan berdasarkan perkembangan media: era tribal (kesukuan), era literasi, era cetak dan era elektronik.  Read the rest of this entry »